Jumat, 12 Juni 2015

kota menggala



MENGGALA

 Hasil gambar untuk kota menggala

Menggala merupakan ibukota Tulang bawang salah satu kabupaten di provinsi Lampung . Selain sebagai kota tertua yang terdapat banyak sejarah sebagai saksi kejadian masa lampau ,menggala juga banyak menyimpan potensi objek pariwisata . Untuk lebih memeperjelas pengetahuan anda berikut diulas beberapa hal tentang Menggala.  


MENGGALA KOTA MATI .

Pada masa sebelum kemerdekaan kota Menggala disebut sebagai “Paris Van Lampung” karena menurut peta sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, menggambarkan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, di samping Kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai dan Tarumanegara.

MENGGALA KOTA SEJARAH DAN BUDAYA

Selain sebagai Ibukota Kabupaten  Tulang Bawang, Menggala merupakan salah satu kota tua yang berkembang sejak Pemerintahan Kolonial Belanda. Ciri khas kehidupan tradisional, kesibukan sebagai kota pelabuhan sungai, pola pemukiman, rumah-rumah tua dan tata kehidupan asli masih sangat terlihat. Beberapa fasilitas yang tersedia yaitu beberapa Hote, Wartel, Rumah Makan. Menggala cukup menarik bagi mereka yang menyenangi budaya dan sejarah lama, kehidupan tradisional dan kesibukan perdagangan tradisional di Pasar Lama dan Pelabuhan sungai Tulang Bawang yang membelah Kota Menggala.

Di Menggala juga terdapat Way Tulang Bawang .

Way Tulang Bawang adalah sungai  terbesar di provinsi Lampung dgn lebar sekitar 200 m yg melintasi kota Menggala. Selain dpt dijadikan sbgai objek wisata petualangan, berkemah, memancing dll, saat ini masih banyak juga masyarakat yg mendiami beberapa bagian sungai ini, baik untuk tempat tinggal maupun sbgai tempat mencari nafkah dgn memasang keramba ikan di sekitar sungai ini. Rawa Tulang Bawang merupakan lahan basah tersisa yg terbaik di Sumatera. Beberapa wilayah rawa alam yang masih banyak menyimpan keaslian lingkungan alam setempat berikut isinya adalah : Rawa Pacing dan Rawa Kandis serta bagian-bagian dari Rawa Bujung Tenuk.

 

.KEBUDAYAAN

 Hasil gambar untuk kebudayaan menggala

Penduduk Kabupaten Tulang Bawang khususnya Menggala secara garis besar dpt dikelompokkan dlm masyarakat adat Lampung (masyarakat asli Lampung) dan kelompok pendatang. Keberadaan kelompok ini telah membentuk suatu pertalian adat n budaya yg mnjdi suatu akulturasi budaya. Masyarakat adat Lampung kebanyakan trmasuk adat Pepadun dengan sebutan Marga Megou Pak Tulang Bawang

 

 

Selain itu Orang Menggala terkenal dengan Pi'il pesenggiri nya .

Pandangan hidup yang dibuat oleh masyarakat Lampung yang berperangai keras dan cenderung mempertahankan diri terutama bila menyangkut nama baik keturunan, kehormatan pribadi dan kerabat .Secara umum, dalam Pi’il Pesenggiri ini terdapat 4 (empat) unsur yang juga menyertai, yaitu Juluk Adek (pemberian gelar), Nemui Nyimah (menerima tamu dan memberi hadiah), Nengah Nyappur (bercampur dan berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang dianggap sejajar dengan kedudukannya atau bahkan lebih tinggi) dan Sakai Sambayan (gotong-royong bergantian mengerjakan sesuatu pekerjaan yang berat).

Seiring perkembangan zaman di dalam masyarakat Lampung sudah terjadi akulturasi budaya sejak zaman penjajahan Jepang dan hingga kini masih terus berjalan. Proses tersebut dipercepat dengan adanya pertukaran/perpindahan penduduk, dimana ada penduduk Lampung yang pindah ke Jawa baik untuk menuntut ilmu maupun untuk bekerja dan sebaliknya banyak penduduk Jawa atau daerah lain yang transmigrasi khususnya ke Tulang Bawang untuk mendapatkan pekerjaan (mengadu nasib). Kaum pendatang umumnya merupakan transmigran lokal dari daerah kabupaten lain dan terdiri atas beberapa etnis, seperti Jawa, Sunda, Bali, Batak, Padang, Palembang dan Bugis.

 

Proses akulturasi budaya mempengaruhi pembentukan pola-pola daerah permukiman. Perkampungan penduduk asli Lampung di Menggala masih banyak dijumpai mengikuti jalan, garis pantai dan aliran sungai dengan pola linear dan pola mengelompok secara sporadis pada wilayah-wilayah pertanian. Sedangkan penduduk pendatang umumnya bermukim pada kantong-kantong permukiman yang sudah terbentuk dengan dan atau tanpa pengaturan seperti, lahan transmigrasi dan permukiman tradisional/perkampungan (desa-desa).

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan.

Penggunaan bahasa Lampung masih dominan dalam kehidupan sehari-hari di Menggala,masih sering kita dengar baik dalam masyarakat maupun dalam lingkungan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa kekerabatan dalam masyarakat Lampung masih cukup erat.

Masyarakat adat Megou Pak memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Mata pencaharian utama adalah bertani di lahan kering seperti berladang dan berkebun. Sedangkan masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai dan rawa biasanya memiliki mata pencaharian sebagai penangkap ikan.

 

Potensi pariwisata di Menggala cukup Menjanjikan .ada beberapa potensi objek wisata terdapat di sana

 

Bujung Tenuk

Kawasan rawa Bujung Tenuk di kota Menggala merupakan daerah rawa pasang surut yang menjadi tampungan air di musim hujan secara alami, sehingga musim hujan terlihat seperti danau yang sangat luas dan tentu saja pemandangannya sangat indah. Pada musim kemarau kawasan ini menjadi padang luas yang dilalui oleh berbagai jenis burung spesies langka di dunia dan dapat dijadikan untuk menggembala ternak masyarakat. Objek wisata ini berlokasi di jalan Lintas Timur Sumatera dan sebagian berada di trans Asean.

 

Bawang Latak:

Kawasan rawa Bawang Latak juga  berada di Kecamatan Menggala merupakan objek wisata alam dan petualangan yang berada kurang lebih 3 km dari pusat kota.

 

Cakat: Merupakan objek wisata alam berupa kawasan rawa berada di Cakat: Merupakan objek wisata alam berupa kawasan rawa berada di Kecamatan Menggala Sungai dan Danau

 

Way Tulang Bawang

Way Tulang Bawang adalah sungai paling besar/lebar di Provinsi Lampung dengan lebar 200 meter yang melintasi kota Menggala. Selain dapat dijadikan sebagai objek wisata petualangan, berperahu, berkemah di pinggir sungai, memancing juga kegiatan wisata lainnya. Di atas sungai masyarakat juga memasang keramba ikan sebagai mata pencaharian. Untuk pengembangan di masa yang akan datang, Way Tulang Bawang dapat dijadikan sebagai arena olahraga rutin tahunan misalnya lomba perahu hias, lomba dayung, dan lomba memancing, disamping itu juga dapat dibangun rumah makan terapung dan pusat penjualan makanan khas serta souvenir Tulang Bawang.

 

Objek Wisata Sejarah dan Budaya

Kabupaten Tulang Bawang memiliki berbagai objek wisata budaya/sejarah yang dapat diandalkan, seperti Menggala sebagai ibukota Tulang Bawang yang merupakan kota tertua, dan sanggar-sanggar seni/budaya warisan nenek moyang banyak berkembang di Kabupaten Tulang Bawang,misalnya Sanggar Seni Besapen .

Ditulang Bawang Khususnya Menggala jika terdapat acara ,masyarakat masih wsering dilaksanakan secara adat, misalnya : pernikahan, khitanan, pemberian gelar adat, mendirikan rumah (ruwah bumi) dan lain-lain merupakan wisata budaya yang menarik wisatawan.

 

Terdapat juga Objek Wisata Ziarah (ziarah ke makam para pahlawan tersebar di wilayah Tulang Bawang diantaranya) :

Makam Menak Sengaji di Menggala, Makam Menak Ngegulung di Tiuh Toho, Makam Menak Rio Tengah, Makam Menak Mangku Bumi/ Tiuh Rio Mangku Bumi, Makam Menak Sang Putri Haji Bawas, Makam Menak Patih Prajurit di Pagar Dewa, Makam Menak Temenggung, Makam Menak Indah/Tuan Rio Sanak, Makam Tubagus Buang.

 

Objek wisata sejarah dan budaya lainnya adalah :

Tangga Raja Menggala merupakan wisata sejarah/alam yang berada di Kecamatan Menggala.

Pulau Daging merupakan wisata sejarah dan alam berada di Kecamatan Menggala.

 Sanggar Seni Besapen merupakan wisata budaya untuk mengenal dan mempelajari kesenian tradisional Lampung.


 Hasil gambar untuk pi,il pesenggiri lampung

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar