kota menggala
MENGGALA

Menggala
merupakan ibukota Tulang bawang salah satu kabupaten di provinsi Lampung .
Selain sebagai kota tertua yang terdapat banyak sejarah sebagai saksi kejadian
masa lampau ,menggala juga banyak menyimpan potensi objek pariwisata . Untuk
lebih memeperjelas pengetahuan anda berikut diulas beberapa hal tentang
Menggala.
MENGGALA KOTA MATI .
Pada masa
sebelum kemerdekaan kota Menggala disebut sebagai “Paris Van Lampung” karena
menurut peta sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, menggambarkan
Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, di samping
Kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai dan Tarumanegara.
MENGGALA KOTA SEJARAH DAN BUDAYA
Selain sebagai
Ibukota Kabupaten Tulang Bawang,
Menggala merupakan salah satu kota tua yang berkembang sejak Pemerintahan
Kolonial Belanda. Ciri khas kehidupan tradisional, kesibukan sebagai kota
pelabuhan sungai, pola pemukiman, rumah-rumah tua dan tata kehidupan asli masih
sangat terlihat. Beberapa fasilitas yang tersedia yaitu beberapa Hote, Wartel,
Rumah Makan. Menggala cukup menarik bagi mereka yang menyenangi budaya dan
sejarah lama, kehidupan tradisional dan kesibukan perdagangan tradisional di
Pasar Lama dan Pelabuhan sungai Tulang Bawang yang membelah Kota Menggala.
Di Menggala juga terdapat Way Tulang Bawang
.
Way Tulang
Bawang adalah sungai terbesar di
provinsi Lampung dgn lebar sekitar 200 m yg melintasi kota Menggala. Selain dpt
dijadikan sbgai objek wisata petualangan, berkemah, memancing dll, saat ini
masih banyak juga masyarakat yg mendiami beberapa bagian sungai ini, baik untuk
tempat tinggal maupun sbgai tempat mencari nafkah dgn memasang keramba ikan di
sekitar sungai ini. Rawa Tulang Bawang merupakan lahan basah tersisa yg terbaik
di Sumatera. Beberapa wilayah rawa alam yang masih banyak menyimpan keaslian
lingkungan alam setempat berikut isinya adalah : Rawa Pacing dan Rawa Kandis
serta bagian-bagian dari Rawa Bujung Tenuk.
.KEBUDAYAAN

Penduduk
Kabupaten Tulang Bawang khususnya Menggala secara garis besar dpt dikelompokkan
dlm masyarakat adat Lampung (masyarakat asli Lampung) dan kelompok pendatang.
Keberadaan kelompok ini telah membentuk suatu pertalian adat n budaya yg mnjdi
suatu akulturasi budaya. Masyarakat adat Lampung kebanyakan trmasuk adat
Pepadun dengan sebutan Marga Megou Pak Tulang Bawang
Selain itu Orang Menggala terkenal dengan Pi'il pesenggiri nya .
Pandangan
hidup yang dibuat oleh masyarakat Lampung yang berperangai keras dan cenderung
mempertahankan diri terutama bila menyangkut nama baik keturunan, kehormatan
pribadi dan kerabat .Secara umum, dalam Pi’il Pesenggiri ini terdapat 4 (empat)
unsur yang juga menyertai, yaitu Juluk Adek (pemberian gelar), Nemui Nyimah
(menerima tamu dan memberi hadiah), Nengah Nyappur (bercampur dan berinteraksi
dengan orang lain, terutama dengan orang yang dianggap sejajar dengan
kedudukannya atau bahkan lebih tinggi) dan Sakai Sambayan (gotong-royong
bergantian mengerjakan sesuatu pekerjaan yang berat).
Seiring
perkembangan zaman di dalam masyarakat Lampung sudah terjadi akulturasi budaya
sejak zaman penjajahan Jepang dan hingga kini masih terus berjalan. Proses
tersebut dipercepat dengan adanya pertukaran/perpindahan penduduk, dimana ada
penduduk Lampung yang pindah ke Jawa baik untuk menuntut ilmu maupun untuk
bekerja dan sebaliknya banyak penduduk Jawa atau daerah lain yang transmigrasi
khususnya ke Tulang Bawang untuk mendapatkan pekerjaan (mengadu nasib). Kaum
pendatang umumnya merupakan transmigran lokal dari daerah kabupaten lain dan
terdiri atas beberapa etnis, seperti Jawa, Sunda, Bali, Batak, Padang,
Palembang dan Bugis.
Proses
akulturasi budaya mempengaruhi pembentukan pola-pola daerah permukiman.
Perkampungan penduduk asli Lampung di Menggala masih banyak dijumpai mengikuti
jalan, garis pantai dan aliran sungai dengan pola linear dan pola mengelompok
secara sporadis pada wilayah-wilayah pertanian. Sedangkan penduduk pendatang
umumnya bermukim pada kantong-kantong permukiman yang sudah terbentuk dengan
dan atau tanpa pengaturan seperti, lahan transmigrasi dan permukiman tradisional/perkampungan
(desa-desa).
Bahasa merupakan salah satu unsur
kebudayaan.
Penggunaan
bahasa Lampung masih dominan dalam kehidupan sehari-hari di Menggala,masih
sering kita dengar baik dalam masyarakat maupun dalam lingkungan kerja. Hal ini
menunjukkan bahwa kekerabatan dalam masyarakat Lampung masih cukup erat.
Masyarakat
adat Megou Pak memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Mata
pencaharian utama adalah bertani di lahan kering seperti berladang dan
berkebun. Sedangkan masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai dan rawa
biasanya memiliki mata pencaharian sebagai penangkap ikan.
Potensi
pariwisata di Menggala cukup Menjanjikan .ada beberapa potensi objek wisata
terdapat di sana
Bujung Tenuk
Kawasan rawa
Bujung Tenuk di kota Menggala merupakan daerah rawa pasang surut yang menjadi
tampungan air di musim hujan secara alami, sehingga musim hujan terlihat
seperti danau yang sangat luas dan tentu saja pemandangannya sangat indah. Pada
musim kemarau kawasan ini menjadi padang luas yang dilalui oleh berbagai jenis
burung spesies langka di dunia dan dapat dijadikan untuk menggembala ternak
masyarakat. Objek wisata ini berlokasi di jalan Lintas Timur Sumatera dan
sebagian berada di trans Asean.
Bawang Latak:
Kawasan rawa
Bawang Latak juga berada di Kecamatan
Menggala merupakan objek wisata alam dan petualangan yang berada kurang lebih 3
km dari pusat kota.
Cakat:
Merupakan objek wisata alam berupa kawasan rawa berada di Cakat: Merupakan
objek wisata alam berupa kawasan rawa berada di Kecamatan Menggala Sungai dan
Danau
Way Tulang
Bawang
Way Tulang
Bawang adalah sungai paling besar/lebar di Provinsi Lampung dengan lebar 200
meter yang melintasi kota Menggala. Selain dapat dijadikan sebagai objek wisata
petualangan, berperahu, berkemah di pinggir sungai, memancing juga kegiatan
wisata lainnya. Di atas sungai masyarakat juga memasang keramba ikan sebagai
mata pencaharian. Untuk pengembangan di masa yang akan datang, Way Tulang
Bawang dapat dijadikan sebagai arena olahraga rutin tahunan misalnya lomba
perahu hias, lomba dayung, dan lomba memancing, disamping itu juga dapat
dibangun rumah makan terapung dan pusat penjualan makanan khas serta souvenir
Tulang Bawang.
Objek Wisata
Sejarah dan Budaya
Kabupaten
Tulang Bawang memiliki berbagai objek wisata budaya/sejarah yang dapat
diandalkan, seperti Menggala sebagai ibukota Tulang Bawang yang merupakan kota
tertua, dan sanggar-sanggar seni/budaya warisan nenek moyang banyak berkembang
di Kabupaten Tulang Bawang,misalnya Sanggar Seni Besapen .
Ditulang Bawang
Khususnya Menggala jika terdapat acara ,masyarakat masih wsering dilaksanakan
secara adat, misalnya : pernikahan, khitanan, pemberian gelar adat, mendirikan
rumah (ruwah bumi) dan lain-lain merupakan wisata budaya yang menarik
wisatawan.
Terdapat juga
Objek Wisata Ziarah (ziarah ke makam para pahlawan tersebar di wilayah Tulang
Bawang diantaranya) :
Makam Menak
Sengaji di Menggala, Makam Menak Ngegulung di Tiuh Toho, Makam Menak Rio
Tengah, Makam Menak Mangku Bumi/ Tiuh Rio Mangku Bumi, Makam Menak Sang Putri
Haji Bawas, Makam Menak Patih Prajurit di Pagar Dewa, Makam Menak Temenggung,
Makam Menak Indah/Tuan Rio Sanak, Makam Tubagus Buang.
Objek wisata
sejarah dan budaya lainnya adalah :
Tangga Raja
Menggala merupakan wisata sejarah/alam yang berada di Kecamatan Menggala.
Pulau Daging
merupakan wisata sejarah dan alam berada di Kecamatan Menggala.
Sanggar Seni
Besapen merupakan wisata budaya untuk mengenal dan mempelajari kesenian
tradisional Lampung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar